Rabu, 21 Oktober 2009

Cuma Sebatang Rokok

Sore itu seorang laki-laki dewasa duduk di bawah sebatang pohon yang tumbuh rindang di depan rumahnya sambil menikmati sebatang rokok yang baru saja dinyalakannya. Tiba-tiba dia didatangi oleh seorang anak muda kemudian duduk berhadapan dengannya..

Waktu terus berjalan hingga tak terasa pembicaran keduanya pun terus berlajut yang sesekali diisi dengan nasehat dari sang laki-laki kepada sang pemuda itu. Namun entah serius atau entah mau bercanda sang pemuda menjawab petuah atau nasehat laki-laki dewasa itu sambil tersenyum dia berkata, : “akh nggak apa-apa masuk api neraka nanti kalau sudah selesai balasan atas dosa yang saya perbuat maka saya juga akan masuk sorga walaupun agak belakangan hehehe”.

Laki-laki dewasa tadi tidak marah dengan jawaban yang didengarnya sebab dia memaklumi kalau yang diajaknya berbicara adalah anak yang masih muda yang terkadang menganggap remeh sesuatu padahal sebenarnya bisa berakibat fatal bahkan sangat fatal bagi dirinya. Lalu laki-laki tadi berkata: “coba ulurkan tangan kamu dan buka telapak tangan”. Sang pemuda bertanya: “ untuk apa?”, Laki-laki menjawab : “saya minta kamu menggenggam rokok saya ini satu menit saja”.. Sang pemuda terkejut bercampur heran lalu bertanya : “ rokok yang menyala ini?”, “Ya Cuma satu menit saja”. jawab laki-laki dewasa itu. “Tidak mau” jawab sang pemuda sambil buru-buru menarik kembali tangannya yang sudah diulurkannya kearah laki-laki itu. Sang laki-laki tadi tertawa terkekeh-kekeh sambil berkata :”begini saja kamu tidak berani bagaimana kalau sekujur tubuhmu ditelan api neraka, apa berani???”, Sang pemudapun menyadari kekhilafannya seraya mengucapkan kalimat astagfirullahal adzim. Serta tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada laki-laki dewasa tadi yang telah mau memberikan nasehat berharga bagi dirinya.

Terima kasih telah berkunjung ke “kindai-mangganang“ ini, semoga kita senantiasa diberi kesehatan lahir batin dan dimudahkan Allah dalam segala urusan. Amiin Allahumma Amiin.

Kamis, 15 Oktober 2009

SEBUAH I`TIBAR


Sebatang pohon pisang semakin hari tumbuh semakin besar sampai pada suatu ketika seseorang datang lalu menebangnya. Keesokan harinya didapati pohon pisang itu bukannya mati tetapi telah tumbuh lagi. Ditebang lagi dan tumbuh lagi. Akhirnya orang tersebut membiarkan pohon pisang itu tumbuh besar dan berbuah. Setelah buahnya masak maka pohon pisang itupun mati.

Cerita tentang pohon pisang di atas yang tidak mau mati sebelum dapat memberikan hasil bisa menjadi satu i`tibar kita dalam menjalani hidup di dunia ini dimana halangan dan rintangan pasti ada seperti halnya kita berjalan pasti pernah terjatuh dan terjerambab namun segera kita bangun lagi dan terus berjalan hingga akhirnya sampai ke tujuan. Sejauh bagaimanapun tujuan kita kalau kita sabar menjalaninya Insya Allah kita akan sampai ke tempat yang kita tuju.

Menjalani kehidupan ini tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tetapi harus dilalui dengan segala kesabaran sehingga segala yang kita cita-citakan dapat menjadi kenyataan. Namun harus kita fahami bahwa, sabar bukanlah berarti kita hanya menerima segala sesuatu dengan pasrah dengan berdiam diri saja, hanya berangan-angan tanpa mau bersusah payah. tetapi sabar adalah berusaha dengan segala kemampuan yang ada pada diri kita untuk mencapai cita-cita. Sabar dalam belajar, sabar dalam berusaha, dan sabar dalam berdo`a. Bilamana hasilnya sesuai dengan keinginan, maka kita harus pandai mensyukurinya dan bilamana hasilnya tidak sesuai dengan keinginan, maka kita pun sabar menerimanya. Tanamkan dalam hati kita untuk selalu bersangka baik kepada Allah, yakinilah bahwa Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kaya lagi Maha Mengetahui telah memilihkan yang terbaik bagi kita untuk saat ini. Dan yakinilah pula bahwa, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Semoga kita selalu beriman kepada Allah SWT. Amiiin Allahumma Amiiin.

Terima kasih telah mengunjungi kindai-mangganang ini.

Senin, 29 Juni 2009

Do`a si kupu-kupu malam

di sebuah villa yang megah
di hamparan bunga yang harum
si kupu-kupu malam menangis pilu
terucap do`a menyayat hati
ya Allah....
Engkaulah Tuhanku
Engkaulah yang telah menciptakan aku
melalui kedua orang tuaku
aku malu kepada diriku
aku malu kepada kedua orang tuaku
aku malu kepada tetanggaku
aku malu.......
bila Engkau tidak mema`afkanku
betapa hinanya diriku

Jumat, 12 Juni 2009

HAFIZ ANSHARI DAN HASNA ALYA

DEMI WAKTU


Waktu berjalan begitu sangat cepat bahkan lebih cepat dari kilatan pedang. tanpa terasa saat-saat yang sangat menegangkan disaat kelahiran anakku yang pertama HAFIZ ANSHARI tanggal 27 Nopember 1998 telah berlalu hampir 11 tahun sudah dan kini di bulan Mei tahun 2009 anakku tersebut sudah duduk di kelas IV SDN Banjarbaru Kota 5 dan sebentar lagi insya Allah akan duduk di kelas V.

Seakan tersadar dari mimpi yang sangat panjang, seakan aku tak percaya, peristiwa kelahiran anakku yang kedua HASNA ALYA tanggal 28 Juli 2005 yang sungguh lebih menegangkan dari kelahiran anakku yang pertama telah berlalu pula 4 tahun dan malah kini anak kami ini sudah kami daftarkan sekolah di TK ABA Banjarbaru.

Aku termenung mengingat waktu yang berjalan begitu cepatnya dan peristiwa kelahiran kedua anaku seakan baru terjadi kemaren dan seakan tak kupercaya ternyata usiaku sekarang tidaklah dapat dikatakan sebagai anak muda lagi sebagaimana yang kurasakan selama ini. Hem…hemmm.

Sungguh kuakui dengan sejujurnya, seandainya tidak kusadari bahwa saat ini aku sudah memiliki dua orang anak yang mulai tumbuh besar dan sangat membutuhkan perhatianku sebagai seorang ayah, maka kemungkinan besar aku tidak menyadari pula bahwa sesungguhnya saat ini aku usiaku sudah tidak dapat disebut sebagai anak muda lagi.

Aku teringat kembali saat aku masih duduk di bangku sekolah dan juga saat di bangku kuliah, aku sering heran melihat banyaknya orang tua yang masih berprilaku seperti anak muda yang suka keluyuran tanpa tujuan dan suka menggoda cewek muda yang pantas menjadi anaknya. Aku sering bertanya pada diriku sendiri mengapa bisa begini dan mengapa bisa begitu??? E..e..ee… ternyata setelah aku seusia mereka yang dulu sering jadi bahan perhatianku plus keherananku, justru aku juga hampir tidak menyadari bahwa aku nyaris sama dengan mereka yang tak sadar bahwa usia sudah bukan remaja lagi dan nyatanya aku bukanlah seorang remaja yang masih berusia 17 tahun tetapi seorang laki-laki yang sudah berumur dan memiliki 2 orang anak yang sudah sekolah keduanya.

Benar kata orang bijak bahwa, waktu itu lebih tajam dari pedang bilamana kita lengah maka kita akan terpenggal dan binasa olehnya dan menjadilah kita orang-orang yang rugi. Dan benar pula kata orang bijak bahwa, tidak akan kembali hari-hari yang lalu.

Semoga kita selalu beriman kepada Allah dan selalu mendapatkan hidayah serta ridho dari-Nya. Amiiin ya robbal `alamiiin. Terima kasih telah berkunjung ke kindai-mangganang ini.

Senin, 25 Mei 2009

Mengurai Benang Yang Kusut


Seseorang yang tersesat di dalam sebuah gua akan menimbulkan suatu kesimpulan bahwa tempat yang dirasakannya saat itu sangat gelap, sempit, pengap serta tak tahu jalan untuk keluar. Keadaan demikian bisa jadi akan menimbulkan kepanikan dan putus asa seakan tidak ada lagi harapan untuk bisa keluar dari gua itu

Berbeda halnya dengan orang yang berada di luar gua. Dia tidak merasakan kekhawatiran ataupun kepanikan sebagaimana yang dirasakan oleh orang yang tersesat di dalam gua. Dia merasakankan tempat yang dirasakannya saat itu begitu luas dan terang benderang, dia dapat melihat gua itu berada pada sebuah gunung yang besar dan tinggi di tengah alam yang sangat luas dan dikelingi oleh rimbunnya pepohonan yang hijau dengan udaranya yang sejuk menyegarkan.

Cerita orang yang tersesat di dalam sebuah gua di atas hanyalah ibarat bagi orang yang sedang dirundung masalah hidup dan kehidupan. Dunia baginya sangat gelap, pikiran terasa buntu dan timbul keputus asaan di dalam hati. Orang yang demikian disamping harus berusaha dan berdo`a agar segera dapat keluar dari masalah yang membelenggu ketenangan batinnya dia juga harus mengoreksi kesalahan dirinya selama ini.

Bilamana upaya demikian belum juga menemukan jalan keluarnya maka sebaiknya dia meminta bantuan kepada orang lain yang dianggap berpandangan lebih luas dan tenang dalam memandang suatu masalah. Sebagaimana orang yang berada diluar gua tadi.

Hanya saja perlu pertimbangan dan kehati-hatian dalam memilih orang untuk dimintai bantuan dalam memecahkan masalah itu, karena boleh jadi teman yang menjadi tempat untuk curhat itu mau mengambil kesempatan di dalam kesempitan demi untuk kepentingan pribadi dan atau tidak mampu bersikap netral, sehingga masalah yang dihadapi bukannya dapat diatasi dengan baik malah justru sebaliknya bertambah semakin parah. Ibarat api semakin dikipasi semakin menyala. Na`uzubillahi min za~lik.

Disamping itu pula yang juga sangat penting untuk diperhatikan adalah bagi seseorang yang tengah dililit masalah lalu mendapatkan saran pendapat yang baik dari orang luar, maukah dia menerimanya dengan lapang dada??? Karena tidak jarang terjadi saran pendapat yang diberikan justru dianggap salah karena ego menguasai hatinya. Bila demikian halnya maka sangat sulit untuk bisa keluar dari masalah yang membelenggu dirinya.

Semoga kita selalu beriman kepada Allah dan senantiasa mendapatkan barokah serta pertolongan-Nya. Amiiiin Allahumma amiiiin.